Perkembangan Teknologi Digital
Peralihan
fotografi film ke digital sudah mulai di awal tahun 1990-an tapi harganya
masih sangat mahal. Kamera 1 MP harganya sekitar 50.000 USD.
Pada tahun 1997, juga masih dengan kemampuan 1 MP,
kamera digital sudah turun harganya jadi sekitar 20.000 USD. Pada thn 1997 itu,
pembuat DSLR komersial baru KODAK. Body yang dipakai bisa dipilih antara
Canon atau Nikon. Terlihat ukuran kamera sangat besar dan terlihat berat,
terutama baterai pack-nya.
Kodak Nikon thn
1990, Harga USD 50.000, Image Credit : Nikon
KODAK Nikon yg dibeli
Kompas 1997. Crop factor 2x, harga USD 16.000 1MP
Jadi awal fotografi digital, hanya media massa
yang mau dan mampu membelinya. Mutu jelek, mahal, tapi mampu mengejar
deadline. Banyak yang tanya: “Apakah jurnalistik suka
dengan digital?” Jawabannya justru jurnalistik
yang memajukan dan memacu fotografi digital! Di tahun 90-an harga
kamera digital sangat mahal karena harga sensor
memang sangat mahal. Crop factor 2x terjadi karena sensor
berukuran sangat kecil (kira-kira berukuran sama dengan sensor Micro Four
Third/MFT saat ini).
Pada awal era fotografi kamera digital, Full Frame (FF)
atau tidak, sangatlah penting karena menyangkut rasa dan kebiasaan soal depth
of field (DOF) dll.
Kalau generasi yang tidak pernah pakai kamera film meributkan Full Frame
atau tidak, pasti semata karena gengsi. FF lebih mahal kan? (meski saat
ini gap perbedaan harga tersebut semakin mengecil). Sampai sekarang FF
atau tidak, harganya beda jauh semata karena harga sensor memang masih
sangat mahal. FF lebih tahan terhadap gangguan noise pada saat
pengambilan High ISO atau di kondisi low light, karena ukuran
sensornya memang lebih besar. Untuk sama-sama mencetak ukuran foto
5R, yang hasil kamera FF pasti perbesaran secara digital-nya lebih sedikit
sehingga hasil lebih orisinal dan lebih tajam.
Ukuran Sensor Kamera Digital
Berikut
gambar disamping ini adalah ukuran aneka sensor. Perhatikan bahwa FF atau bukan
memang semata ukuran sensor. Jadi crop factor terjadi
karena ukuran sensor yang ada lebih kecil darupada FF.
Seakan memakai tele lebih panjang. Bahwa FF dengan 36 mm x
24 mm (ini ukuran satu frame film 135) jadi patokan, itu karena masa peralihan
dari era kamera film ke era kamera digital.
Setelah
sekian lama, apakah kita masih akan terus berpegang pada patokan Full Frame 36
x 24 mm ? Mutu sensor FF tahun 2006 kalah jauh dibandingkan sensor dengan
cropfactor buatan tahun 2011. Itulah teknologi! Kamera handphone tertentu
buatan 2009 pun mutunya lebih baik daripada kamera DSLR Canon/Nikon
tahun 2000 yang harganya waktu itu 80 jutaan. Tahun 2000,
kamera DSLR Nikon D1 muncul, harga 70 jutaan, kemampuan 2.75
MP, masih kalah dengan film. Mei tahun 2002, Nikon D100, 6 MP,
harga 26 juta, sepertinya saat itulah fotografi digital mulai setara
dengan fotografi film.
Tahun 2003,
Nikon D1X muncul, dengan 6MP dan mulai saat itulah National Geographic mau
memakai digital (kalau tidak salah edisi penerbangan). Tahun 2003 itu
pula, saya memutuskan membuang kamera film! Tahun 2003 adalah era dimana
teknologi film disamai digital. Sejak 2003 itu, kemajuan fotografi digital amat
sangat cepat. Mutu makin baik, harga makin murah dan murah. Tahun 2003
itu, Nikon memecah seri D1nya menjadi D1H (hi-speed, 2,75 MP) dan D1X (hi-res,
6 MP). Perhatikan bahwa resolusi begitu penting.
Hingga
tahun 2010-an perang megapixel terjadi, perusahaan menjual resolusi mega
pixel sebagai fitur yang paling diutamakan. Dari 8MP, 10MP, 12MP, 16MP,
18MP dan sekarang yang paling umum untuk sensor APS-C adalah 24MP. Untuk
profesional sudah ada yang mencapai 36MP. Untuk kondisi saat ini yang
lebih diutamakan adalah fitur-fitur lain seperti kecepatan AF atau body yang
lebih ringan dan kompak.
Di
era seri D2, dominasi Nikon yang sangat kuat di era film mulai digerogoti
Canon yang jauh lebih siap masuk dunia digital. Saat ini, Nikon
huruf D-nya duluan (misal D300, D90 dll) dan Canon huruf D0nya belakangan
(5D, 7D). Dulu awalnya Canon juga punya seri dengan huruf D duluan, misalnya
Canon D60. Nikon membagi DSLR-nya dengan jumlah digit. Satu digit (misal
D1, D2 dan D3) adalah seri terbaiknya (high-end). Demikian pula
Canon mamakai 1 digit (misal Canon 1D, 5D dan 7D).
Contoh DSLR dari level
high-end, mid-end hingga entry-level : Canon 1D, 5D, 70D dan 650D
Namun
di kelas kedua (mid-end), Nikon memakai 3 digit (misal Nikon D100, D200, D300)
sedangkan Canon dua digit (Canon 50D, 60D). Dikelas pemula (entry level), Nikon
memakai 2 digit (misal Nikon D70, D90 dll) sedangkan Canon 3 digit (Canon 500D,
600D). Sejalan dengan waktu, Canon dan Nikon sama-sama kompak melahirkan
kelas di bawah entry level dgn 4 digit (Nikon D7000 atau Canon 1000D).
Tapi sejalan
dengan waktu, Nikon kelas 4 digit justru digeber dan mutunya makin baik.
Seri 4 digit Nikon harganya setara 2 digitnya Canon. Dari tadi kenapa Canon dan
Nikon mulu ya ? Mau tak mau begitu sebab di awal era digital, merek lain
berjatuhan.
Era Kamera Digital Mirrorless
Di tahun 2004, Olympus masuk ke era digital tapi dengan
cara yang sama sekali baru. Olympus berpikir “kalau
sudah tidak memakai film, mengapa masih berpikir secara film?”.
Maka Olympus menciptakan sensor & system FourThird bersama
Panasonic. Kemudian karena DSLR Four Third, dengan sensor yang lebih kecil
(lihat di gambar atas), tidak memberikan kelebihan dibandingkan sensor APS-C
atau Full Frame, maka mereka membuat sistem mirrorless Micro Four Third (MFT)
dengan menjual ukuran body yang kompak dan jauh lebih kecil dari
DSLR. (lebih detail bisa dibaca mengenai DSLR vs Mirrorless).
Era
fotografi digital membuat banyak produsen kamera yang berjaya di era film
kelimpungan seperti Leica, Hasselblad dll. Era fotografi digital
juga melahirkan banyak perusahaan fotografi baru yang berasal
dari perusahaan elektronik seperti Sony dan Panasonic. Leica
mampu bertahan dengan mengeluarkan rangefinder digital mereka dan produk
rebranding dari Panasonic.
Fuji seri X, desain retro,
berkat mirrorless, sensor tetap besar, ukuran bisa mungil dan kontrol sangat
banyak.
Sementara
pemain baru mirrorless seperti Fujifilm menonjolkan fitur desain
kamera retro dengan dial kontrol yang sangat banyak dan memanjakan fotografer.
Sony sebagai pemasok sensor terbesar tidak mau kalah dengan inovasi
produknya yang anti mainstream seperti kamera kompak Full Frame seri RX dan
kamera seri Q yang modular.
Saat
ini pertempuran semakin terasa di kamera digital mirrorless dan kamera kompak
premium. Produk-produk baru lebih sering muncul dengan spesifikasi yang semakin
baik untuk merebut market share kamera DSLR. Canon dan Nikon seperti berada di
zona nyaman dengan DSLR mereka, meski market juga mengeluarkan jenis mirrorless
tetapi terkesan apa adanya dan kalah ofensif dibanding Panasonic, Olympus, Sony
atau Fujifilm.



